Letter to the Father of Mayor

Ketika aku harus memutuskan, melakukan sesuatu yang berarti atau tidak sama sekali.
Cerpen Karya
Rifka Khosimatul Wahidah
Sma M-2 Al-Mujahidin Balikpapan
Peserta Lomba Menulis Cerpen PWI Balikpapan dengan Tema Balikpapan Masa Depan (Februari 2012)

Selamat pagi…
Yah, mungkin ketika kalian mulai membaca cerita ini, kalian sedang tidak berada di waktu pagi. Diwaktu siang mungkin, sore atau bahkan diwaktu malam. Sebenarnya ketika aku mulai menuliskan cerita ini, aku juga tidak sedang berada diwaktu pagi, melainkan diwaktu sore ketika matahari mulai tenggelam. Tapi itu semua bukan masalah. Karena bagiku setiap waktu adalah pagi. Aku sangat menyukai pagi. Bagiku pagi adalah waktu dimana cahaya-cahaya matahari mulai menghangatkan bumi dan menghilangkan kabut-kabut malam, juga waktu dimana harapan-harapan baru nan indah muncul, Serta waktu yang mengisyaratkan bahwa kita akan melakukan banyak hal baru hari ini. Tapi pagi ini terasa sungguh berbeda dan membingungkan. Matahari memang masih menjalankan tugasnya dengan baik tetapi pagiku tetap saja terasa terasa berbeda.Semuai ini karena mimpi itu,’sebuah mimpi yang aneh.’
*****
“Cii,,,Tik!!” sesampai-nya dikelas aku langsung menyerbu kedua temanku itu. ”Apaan sih?”, seru Tika dan Suci hampir bersamaan. ”Kamu tuh Rif, datang-datang langsung main teriak-teriak aja. Ucap salam dulu kah atau apa, kaget tau. ”Tambah Tika sambil melempar sebuah buku yang berada ditangannya. ”Haduh!sakid tau, tadi malam tuh aku mimpi aneh makanya datang-datang aku langsung rusuh,” aku mengaduh lantas mulai menceritakan apa yang terjadi padaku. ”Alah palingan kamu mimpi cinta-cintaan lagi”, sahut Tika sambil mengambil bukunya yang terjatuh setelah sukses mengenai kepalaku. ”Jadi gini cerii…”.
Teet..Teet..Teet…
Bel tanda masuk berbunyi dan memutuskan ceritaku. Sebelum aku sempat meneruskan kata-kata. Sepersekian menit itu pula pak Samino atau yang lebih akrab disapa ‘Ka Sam’ masuk kekelas-ku, mau tidak mau aku harus bergegas kembali kebangku milikku dan duduk manis disana.
Ahiya, bukankah aku belum memperkenalkan diri?. Baik-lah aku akan mulai berkenalan sekarang. Namaku Rifka, Rifka Khosimatul Wahidah lengkapnya. Aku anak pertama dari tiga bersaudara semua adikku laki-laki dan tentunya aku anak perempuan satu-satunya. Sekarang aku tengah berusia 14 tahun dan aku bersekolah di SMA Muhammadiyah 2, aku sangat gemar membaca buku dan tentunya aku sangat menyukai pagi.
“Cii…sstt…sstt..,” Suci yang mendengar bisikanku memalingkan kepalanya. ”apa?,” tanya-nya dengan berbisik pula. ”Aku nggak bisa konsen nih, aku terbayang-bayang miimm….”
“Rifka, Suci jangan ngobrol terus kalau kalian mau ngobrol silahkan mengobrol diluar,” belum sempat aku melanjutkan perkataan-ku, lagi-lagi ka Sam memutuskan-nya. Reflek semua mata teman-teman sekelasku tertuju pada-ku dan Suci.
Mau tidak mau aku harus berdiam diri sampai bel istirahat berbunyi. Selama pelajaran berlangsung aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi, dan bel istirahat terasa begitu lama.
45 menit kemudian…
Teet…Teet..
“Haduh akhir-nya istirahat juga, bosan aku,” seru Yuwilda sambil berjalan mendekatiku. Tak lebih dari satu menit, aku, Tika, Suci, Yumni, Yuwilda, Tami, Wilda dan Mega sempurna berkumpul menjadi satu kelompok, dan aku pun mulai menceritakan mimpi yang membuat pagiku terasa aneh dan membingungkan.
“Well, sekarang apa yang harus aku lakukan,?” tanya-ku setelah selesai bercerita. Tetapi ketujuh temanku yang belum sempat mencerna maksud dari ceritaku itu tidak memberikan jawaban seperti yang aku harapkan, mereka berdiam cukup lama. Sebelum teman-temanku menjawab pertanyaanku, bel tanda masuk kembali mengaung-ngaung, maka kami pun bergegas kembali ke bangku masing-masing dan duduk manis disana. ”Kamu harus melakukan sesuatu yang berarti Rifka, kamu harus melakukan-nya, aku yakin kamu bisa aku sama yang lainnya selalu ada jika kamu membutuhkan,” tiba-tiba Yumni membisikan kalimat yang membuatku terdiam dan sebelum aku benar-benar sadar Yumni telah sampai dibangkunya dan duduk manis disana. Aku melihat senyumnya dan entah mengapa aku seperti memiliki suatu keberanian.
Saat ini aku merasa tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran dihadapan-ku dan aku kembali terbayang mimpi aneh ku semalam.’Oh Tuhan,apa yang harus aku lakukan? Apayang harus aku perbuat?’. Pertanyaan-pertanyaan itu mengaung-ngaung didalam hati dan otak ku.
*****
“Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar bingung. Apakah aku harus menuliskan-nya? Ataukah aku hanya harus berdiam diri saja??” Malam ini aku berdiri dibalik kaca jendela kamar ku, sambil menatap rinai hujan yang jatuh bersamaan, membuat suatu gambaran betapa besarnya kuasa Allah SWT.
“Kenapa kamu ragu dik, kamu harus melakukan-nya!,” tiba-tiba kakak sepupu-ku yang biasa ku panggil abang mengagetkanku. ”Tau dari mana kamu?” tanya ku tanpa mengalihkan pandangan dari kaca jendela. ”Aku tau dari tika,” jawabnya seraya duduk dikursi meja riasku. “Seharusnya kamu tidak ragu untuk melakukan suatu hal yang akan berguna untuk masa depan kamu dik,” tambah abangku. ”Tapi aku nggak yakin, semua usahaku pasti akan gagal,” kataku lirih. ”Kamu harusnya yakin dik, karena semua teman-temanmu yakin sama kamu. Kamu harusnya bahagia dan bersyukur karena sudah mempunyai teman seperti mereka. Teman-teman yang hebat, yang selalu memberikan kamu semangat den energi yang baru juga segala harapan-harapan baru yang indah,” abangku berdiri lantas melempar sebuah kertas kearah-ku. ”Aku yakin kamu bukanlah orang lemah, yang takut dan mudah untuk menyerah,” tambah-nya lagi lalu bergegas keluar dari kamarku. ’Lemah’aku selalu tidak suka mendengar kata itu. Aku selalu benci dan teramat sangat benci ketika ada orang yang mengatakan aku ini lemah ’lemah’ aku begumam pelan pada diriku sendiri. ”Aku bukan orang yang LEMAH,” teriak-ku dari kamar, dan aku yakin abangku pasti mendengar teriakan-ku itu. Ahiya, aku teringat kertas yang dilempar abangku. Kupandangi sejenak kertas itu, hanya sebuah kertas kecil berwarna hijau. Ku-pandangi kertas mungil itu dan perlahan membukanya.
“Selamat berusaha adikku. Aku selalu yakin kamu bisa.
Lakukanlah yang terbaik dari yang kamu bisa.”
Aku tersenyum kecil membaca isi kertas mungil itu. Abangku memang hebat, dalam semenit ia bisa berubah menjadi orang yang sangat menyebalkan aku, tapi dalam sedetik kemudian dia bisa berubah menjadi orang yang sangat menyenangkan, orang yang bisa membuat semangatku naik menjadi 120%. Sungguh-sungguh abang yang hebat.
*****
“Gimana Rif, sudah membuat suatu keputusan??” tanya Yumni begitu melihatku memasuki kelas. Aku hanya tersenyum karena sejujurnya aku belum membuat satu keputusan apapun. ”Ikh, nggak butuh senyummu aku butuhnya jawaban ‘iya’,” Wilda yang gemas melihat ku tersenyum mendekat dan mengambil bangku tepat didepanku dan Yumni. ”Maaf kawan, aku belum bisa menulis hari ini. Mungkin esok, atau esok lusa baru aku akan menulis,” jawabku yang bersamaan dengan bunyi bel tanda masuk.
Beberapa menit kemudian suara guru bahasa inggris-ku pun terdengar. Guru favoritku. Suaranya begitu menyenangkan didengar. Inggris versi jawa. Itulah yang sering diucapkan-nya setelah selesai membacakan sebuah teks. Ditengah-tengah jalannya pelajaran entah dari mana datangnya tiba-tiba dipikiranku sejenak terlintas sebuah gambran kertas yang mirip sebuah surat yang ditujukan untuk bapak walikota. Apakah ini suatu pertanda? Tanda bahwa hatiku setuju untuk menuliskan surat itu?.
‘Dik, itu semua adalah siklus alam. Ketika kamu menjaga dan merawatnya, maka kamu akan mendapatkan hasil yang terawat dan terjaga pula. Namun ababila kamu mengabaikan dan tidak merawatnya kamu akan mendapatkan hasil yang terabaikan dan tidak terawat pula.’ Seketika itu pula perkataan abang tentang siklus alam terlintas dipikiranku.
‘Yah, ketika aku berbuat baik kepada alam maka alam akan berbaik pula kepadaku. Namun apabila aku mengabaikan-nya maka ia akan marah.’aku membatin lalu tersenyum.
Ya, aku sudah memutuskan. Aku akan menuliskan surat untuk bapak walikota. Aku akan menuliskan mimpiku dan aku akan menggugat keadilan.
Teet…Teet…
Bunyi bel istirahat pertama akhirnya berbunyi. Sepersekian detik itu pula-lah aku langung membalikan badan dan berkata pada semua teman-temanku. ”Aku sudah memutuskan, aku akan menulisnya, demi aku, kalian dan masa depan kita semua. Aku tersenyum dan merasa lega setelah mengungkapkan keputusanku. Selepas aku mengatakannya teman-temanku mendekat dan bersama-sama memelukku. Pelukkan mereka adalah energi baru untukku.
‘Aku memang beruntung sangat beruntung malah, karena aku mempunyai teman-teman hebat seperti mereka.’ Hatiku membatin disela-sela senyumanku.
*****
“Haduh, aku bingung nih. Gimana memulai suratnya,” kataku kepada Suci dan Yumni. ”Ngapain bingung. Mulai aja dengan mengucap salam dan diakhiri dengan salam pula,” Yumni berseru lalu mengambil selembar kertas dan sebuah pena. ”Mulailah menulis kawan,” katanya lagi. Sejenak aku memandangi kertas didepanku. Sesaat kemudian tanganku mengambil pena didekatnya. ’Aku akan mulai menulis sekarang,’ hatiku bersuara.

Teruntuk: Bapak Walikota
Assalamu’alaikum wr.wb

Sebelumnya saya minta maaf, jika surat saya ini mengganggu waktu Bapak. Bapak pasti tidak mengenal saya, sama seperti saya. Saya juga tidak mengenal Bapak, seperti saya mengenal teman-teman saya. Tapi semua itu bukan masalah Pak, karena saya tau jika Bapak adalah seorang Walikota, dan saya tau Bapak punya kuasa dan wewenang. Bapak bingung mengapa saya mengirimkan surat ini. Saya ingin bercerita kepada Bapak tentang mimpi yang membuat pagi saya terasa aneh. Di mimpi itu saya sangat bingung, disana ada banyak orang tapi tidak ada satupun yang menyapa saya.

”Dimana kah aku?” aku bertanya dan melihat kesekelilingku. Semua orang seolah tidak melihatku. Semua orang sibuk dengan dirinya sendiri, dan yang membuatku terkejut adalah ketika aku melihat kearah jalan raya. Pohon-pohon disana terlihat menguning dan suram. Semua orang seakan tak peduli padanya. Aku berjalan dan aku sangat terkejut ketika aku mendengar sumpah serapah dari orang-orang yang berada didalam kemacetan. Orang-orang itu berbaju rapi, mereka berseragam dan terlihat terpelajar, tapi sikap mereka tidak terlihat seperti orang yang pernah bersekolah. Mereka marah dan berteriak, mencaci satu sama lain. Sungguh memilukan aku melihat semuanya dan ketika aku memandang ke langit, matahari seakan enggan untuk memberikan sinarnya. Cahaya-cahaya matahari itu seakan tertutup asap yang keluar dari kenalpot kendaraan yang berada dijalan dan dari cerobong asap pabrik-pabrik besar. Sungguh sangat menyedihkan pemandangan ini. Aku terus berjalan tanpa tau hendak kemana aku. Ketika aku berjalan tiba-tiba cahaya terang menyilaukan mata datang dan membungkus seluruh tubuhku dan aku merasa seperti terbang.
“Dimana ini?” hatiku bertanya-tanya ketika aku keluar dari cahaya menyilaukan itu. Hatiku sungguh tentram melihat keadaan kota ini. Orang-orang di jalan saling mengucap salam dan tersenyum. Mereka tidak mengendarai mobil, melainkan sepeda. Pohon-pohon terlihat hijau dan sehat, pohon-pohon itu seakan-akan tersenyum pada setiap orang yang berjalan melaluinya. Matahari terlihat mempesona, tersenyum ketika melihat aktivitas para penduduk kota dari atas singgasana-nya. Aku melihat sampah-sampah rumah tangga tersimpan rapi ditempat sampah dan terpisah menjadi tiga bagian, dan air di selokan terlihan bebas mengalir tanpa hambatan. Aku terus berjalan, hingga aku sampai didepan sebuah rumah yang besar dan indah. Ada seorang penjaga disana. ”Rumah siapa ini pak?bolehkah aku masuk?,” aku memutuskan untuk bertanya. ”Ini rumah bapak walikota, anakku. Silahkan masuk jika kamu ingin,” bapak itu menjawab pertanyaanku lantas membukakan gerbang untukku. Aku terkagum-kagum melihat seluruh isi ruangan itu. Pandanganku terpaku pada sebuah pohon besar dan indah ditengah ruangan. “Bukankah hari natal telah lama berlalu, tapi kenapa disini masih ada poohon natal,” aku berkata pada diriku sendiri. ”Itu bukan pohon natal anakku melainkan itu adalah pohon biasa yang menghasilkan oksigen untuk kami diruangan ini,” tiba-tiba seorang bapak yang usianya kira-kira 37 tahun berkata menjelaskan. ”Siapakah bapak dan sedang ada dimana aku ini sebenarnya?” tanyaku pada bapak tadi. ”Aku adalah orang yang ada dimasa depan kamu nanti asal kamu mau melakukan perubahan. Akulah bapak walikota yang kelak akan mengunjungimu dan kamu sekarang sedang berada di kota tempat kamu dibesarkan, kota Balikpapan,” bapak dengan muka menyenangkan yang ternyata adalah pak walikota itu menjelaskan padaku. ”Kembalilah dan lakukanlah hal terbaik yang kamu bisa,”. Sebelum aku berhasil dengan sempurna mencerna kata-kata bapak walikota tiba-tiba aku telah kembali ke dunia nyataku.
Itu lah mimpi saya pak. Dan saya hanya tidak ingin kota saya ini menjadi kota yang suram dimasa depan nanti. Maka saya mohon kepada bapak untuk mendukung saya melakukan perubahan. saya tau, saya hanyalah anak SMA yang tidak mengerti tentang tata kota ,tapi satu hal yang saya sangat mengerti pak. ’Alam akan berbuat baik jika kita menjaganya namun apabila kita mengabaikannya maka ia juga akan mengabaikan kita’.
Saya harap bapak mau membantu saya untuk mewujudkan kota seindah kota yang ada didalam mimpi saya. Bukankah bapak tidak ingin ketika nanti bapak ditanya oleh malaikat didalam kubur, malaikat itu tidak senang dengan jawaban bapak, karena bapak tidak mempergunakan kekuasaan bapak untuk melakukan sesuatu yang berguna??.
Sekian, terima kasih.
Assalamu’alaikum wr.wb
Tertanda: Rifka Khosimatul Wahidah
*****
“Wahai sekertarisku, siapakah gerangan anak yang telah menuliskan surat ini?,” tanya pak walikota pada sekertaris pribadinya. ”Sungguh indah mimpi anak ini, aku akan berusaha mewujudkannya,” sang sekertaris yang merasa tidak suka karena bos-nya begitu perhatian dengan seorang anak kecil berkata, ”Bapak herus mempetimbangkan-nya dulu. Anak kecil itu tidak mengerti apa-apa tentang tata kota. Jadi bapak tidak perlu memikirkannya.
*****
“Sia-sia, seharusnya dari awal aku nggak perlu melakukannya,” aku berkata lirih didepan teman-temanku. ”Kenapa kamu nyerah, kamu putus asa?” Yumni berkata lalu berjalan mendekatiku. ”Semuanya tuh percuma, sekarang lihat apakah ada hasilnya. Mungkin surat itu sudah berakhir ditempat sampah,” kataku setengah menahan air mataku. ”Jangan su’udzon dulu Rif, mungkin pak walikota sedang mempertimbangkan-nya,” Rizal seorang teman baikku berkata menenangkan.
“Attention to our sister Rifka Khosimatul from Xa, please come to SMA office right now,” belum sempat aku menjawab kata-kata Rizal, sebuah panggilan yang ditujukan untukku terdengar.
“Ada apa mba?” tanyaku pada mba yang ada diruanganan itu. ”Kamu ditunggu bapak kepala sekolah,” katanya. Samar-samar aku mendengar suara diruang bapak kepala sekolah. ’Sepertinya bapak tidak sendiri’ aku membatin. ”Permisi pak, ada apa ya?” kataku ketika baru masuk. Setelah mempersilahkan aku untuk duduk bapak kepsek memperkenalkan aku pada seorang bapak berwajah menyenangkan yang ada diruangannya. ”Rifka, kamu pasti Rifka kan. Anak yang telah menulis surat ini,” bapak berwajah menyenangkan itu memberikan sebuah kertas. ”ii,,ii,,iya pak, apakah bapak adalah bapak walikota, apakah bapak datang kesini karena bapak mau membantu saya??” tanyaku kepada bapak berwajah menyenangkan itu. ”Wah, banyak sekali pertanyaanmu anakku. Iya kamu benar. Saya adalah bapak walikota, dan saya datang kemari karena saya ingin mewujudkan mimpi kamu, dan juga saya tidak mau membuat para malaikat kecewa dengan jawaban saya. ”Bapak walikota tersenyum dan satu air mata kebahagian mueluncur dengan sempurna dari kelopak mataku.”Anda pasti seorang kepala sekolah yang hebat, karena telah memiliki anak murid sehebat ini,” kata bapak walikota kepada bapak kepsek. ”Rifka, kamu bisa kembali kekelas dan kamu bisa menyusun rencana, dan ketika kamu dan teman-teman kamu telah selesai dengan rencana hebat kalian, saya akan datang dan mendengarkan rencana yang hebat itu.” Kata bapak walikota kepadaku.
“Teman-teman, tidak ada yang sia-sia. Semua usaha kita berhasil. Kalian tau bapak walikota datang dan setuju untuk membantu kita melakukan perubahan. ”Aku berseru didepan pintu dan reflek semua teman-temanku bersuka cita. Ketujuh temanku berlari kearahku dan memberikanku sebotol penuh energi dan semangat baru, tak pernah ku rasakan kehangatan sehangat ini. Terima kasih Tuhan.
“Jadi apa rencana hebat kalian?” tanya pak walikota beberapa hari kemudian. ”Saya mau, tidak ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab menebang hutan tanpa menanami-nya kembali,” Tami berkata memulai rencana. Rencana lain pun sudah banyak yang diucapkan. ”sekarang giliranku, ” kataku menyikut tami yang sedari tadi melontarkan rencana-rencana aneh.”Aku hanya ingin semua masyarakat kota ini menanam satu pohon dihalaman mereka,”kataku sambil tersenyum kearah semua teman-temanku, ”kenapa kamu mau melakukan itu?” tanya bapak walikota, ”karena pohon itu-lah yang nantinya akan menyadarkan mereka, betapa tidak berdayanya mereka jika pohon itu tidak menghasilkan oksigen, betapa hidup mereka bergantung daripada oksigen yang dihasilkan oleh pohon-pohon itu,” kataku dengan yakin dan kulihat ada binar bahagia dimata bapak walikota dan teman-temanku. ”Aku mau para aparat hukum tidak ada yang menerima suap,” Yuwilda berseru mengagetkan kami yang sedang sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Reflek kami semua pun tertawa.”Yee, kamu nggak nyambung kita nih ngomongin alam, bukan politik.” Tika berkata sambil melempar Yuwilda dengan pulpen yang ada ditangannya. ”Ikh, siapa bilang kita kan ngomongin masa depan. Kalau aparat terus menerima suap, bagaimana depan masa depan kita nanti??Masa nanti kalau salah satu dari kita ada yang jadi polisi atau apa gitu,dia juga bakal terima suap!iya kan pak walikota,” Seru Yuwilda sambil membalas melempar Tika dengan buku yang ada didekatnya. Bapak walikota hanya menggelengkan kepala melihat mereka. “Kalian memang generasi penerus bangsa yang hebat,” Kata bapak walikota mengakhiri pertemuan kami hari itu.
*****
5 tahun kemudian….
Pagi ini aku bangun dengan rasa rindu diubun-ubun. Sekarang aku adalah mahasiswi semester enam di Universitas airlangga. Tak terasa begitu cepat waktu barlalu. Tiga tahun sudah aku menetap disurabaya untuk menyelesaikan kuliahku.
“Ping…”Tiba-tiba laptopku berbunyi kecil membuyarkan lamunanku. ’Siapa yang berkirim email sepagi ini’Tanyaku dalam hati.Seketika aku terkejut ketika melihat isi email itu. Liburan kali ini aku akan pulang.
“Iya ma, nanti kalau acaranya sudah selesai aku langsung pulang kok,” Aku berkata kepada mamaku yang sedang menungguku dirumah.
“Taksii,!” Seruku pada sebuah taksi putih yang melintas didepanku. Setelah menyebutkan alamat kepada pak supir, taksi yang ku tumpangi segera berjalan membelah lalu lintas yang lumayan ramai dengan orang-orang yang memakai sepeda. Aku telah kembali kekota-ku kota kesayanganku ‘Balikpapan’. Kota ini begitu indah dan rapi, persis seperti apa yang ada dimimpiku sekarang mimpi itu sudah menjadi kenyataan. Bahkan kenyataan ini lebih indah dari pada mimpiku. Sebenarnya email kemarin pagi itu adalah berita bahwa sekolah Sma-ku mengadakan reuni. Maka saat itu juga aku memutuskan untuk pulang.Aku rindu pada seluruh kawanku.
Setelah membayar ongkos taksi aku turun.Betapa bahagianya aku ketika aku sampai,semua teman-temanku saling menyapa dan tersenyum kami saling berpelukan dan merajut tali kekeluargaan yang sempat merenggang.
Disinilah aku sekarang,dikota-ku yang indah dan aku sedang tersenyum ditengah-tengah teman-teman lamaku.Kami saling berbagi kisah,kebahagiaan dan duka.
Aku memang beruntung, memiliki teman seperti mereka. Teman seperti Suci yang baik, pintar, manis tapi sedikit pelupa. Seperti Tika yang sangat percaya diri dan terkadang sedikit aneh. Seperti Yuwilda yang cantik, baik dan juga aneh seperti Tika. Yumni seorang temanku yang bijaksana dan tegar. Tami yang paling sipit dan putih. Mega yang paling tinggi diantara kami.dan Wilda yang tercantik diantara kami, dia baik tentunya serta pintar. Tentunya semua teman-teman-ku baik dan pintar.
Aku sangat bangga dengan semua yang kami lakukan dimasa lalu,yang hingga sekarang semua perbuatan kami masih membuahkan hasil.
Ketika nanti kami telah selesai dengan sekolah kami. Kami akan kembali kekota kami yang tercinta ini untuk mengabdikan diri.
Aku rasa suamiku nanti tidak akan keberatan, aku ajak untuk menetap dikota yang damai dan indah ini. kotaku, Balikpaapan.

Minggu,13.50 pm

Satu Tanggapan

  1. aku tebak nya.. pasti Rifka Khosimatul Wahidah penggemar novel Tere-Liye juga..^^
    soalnya……..hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: