Benih Majuku Di Kota Beriman

Cerpen
Karya : Faisal Fath Junaidi
SMA Muhammadiyah 2 Al-Mujahidin Balikpapan
Kelas XI IPS 2
( Juara I Lomba Menulis Cerpen Garapan PWI Balikpapan dengan tema Balikpapan Masa Depan )
( 3 Februari 2012 )

“Wah !senang. rasanya dapat kembali kemari! Berapa lama ya! ? sampe bahasa jawaku sudah nggak kelihatan lagi”.
Ucap seseorang paruh baya yang telah selesai mengisi surat-surat passport di Bandara Sepinggan lewat gate internasional, setelah itu ia keluar dan nampaknya dia amat tidak sabar untuk berjalan-jalan ke kota Balikpapan.
“Tuan,bagaimana dengan penginapan anda?”. Tanya seorang yang sejak awal mengikutinya itu, ia berpakaian tuxedo lengkap amat mewah berbeda jauh dengan orang paruh baya itu.
”Ah! tidak perlu…! Inikan hometown saya, jadi saya sudah punya banyak pengalaman walau sudah hampir 8 tahun tidak pulang!” jawab seorang paruh baya itu.
“Baiklah! Saya mengerti….apa anda ingin ketempat kerabat-kerabat anda!?” Tanya lagi seorang berpakaian rapi tadi terlihat ia adalah seorang sekretaris yang bekerja untuk orang paruh baya itu tadi.
”Haha! Kota Balikpapan dan penduduknya adalah kerabat-kerabat terbaikku!” Ucap orang paruh baya itu lagi, kali ini dengan senyum ramah dari wajah bijaknya dan rambut yang sedikit beruban itu.
“Oh ya, karena sedang liburan…aku minta kau juga berlibur, termasuk dalam tugasmu! OK !” Instruksi pada sekretarisnya itu.” Terima kasih tuan Falah! Info dan jadwal-jadwal mengenai bisnis anda di Adelaide, akan saya atur sendiri, agar liburan anda menyenangkan!” balas sang sekretaris atas pelayanan pada atasannya, yang ternyata orang berpakaian sederhana itu, bernama Falah, memang tak di sangka sebelumnya kalau Falah adalah atasan atau terlihat sebagai orang penting bahkan punya urusan bisnis di Australia, tepatnya di Kota Adelaide.
“Baiklah! Lakukan sesukamu, aku pergi dulu….Assalamualaikum!” Mengucapkannya dengan bergegas ke jalan raya, mengabaikan semua apa yang di ucapkan sekretarisnya setelah mengucapkan salam tadi, seperti ingin bebas dan berbaur dengan keadaan sederhana, ia memanggil angkot yang lewat di depannya begitu saja tanpa pilih-pilih, seperti ingin kabur dari intruksi-intruksi dan info dari sekretarisnya itu.
Memasuki angkot yang di penuhi bapak-bapak dan ibu-ibu, Falah merasa ini saat kesempatan baginya untuk memulai interaksi dengan orang-orang pada umumnya di Balikpapan.

“Piye kabare mas!?” Ucapnya dengan asal bahasa jawa yang masih ia ingat, dan langsung mengucapkannya pada pak sopir, karena kebetulan posisinya saat itu ia duduk di kursi paling depan di sebelah pak sopir dan sudah kebiasaannya sejak dulu saat dalam kendaraan roda empat di Adelaide hampir 8 tahun, Falah selalu duduk di depan.
“Api’-api’ wae mas! Sugeng endang Balikpapan! Ape neng endi to mas!?” Balas pak sopir, dugaan Falah benar bahwa pak sopir tadi adalah orang jawa,namun karena sudah tak menguasai bahasa jawa lagi, Falah hanya iya-iya saja dan akhirnya hanya mengamati pemandangan di Kota Balikpapan yang telah ia tinggalkan lama itu.
Nostalgia Falah di kampung halamannya itu memenuhi ruang suka cita dalam dirinya, mengingat jalan tempuh awal ia menuju gerbang sukses ialah Balikpapan, terus mengamati perubahan-perubahan yang mencolok di kampung halaman, entah kenapa matanya berbinar-binar seraya kagum dan tak percaya akan apa yang ia lihat, Hotel-hotel bintang 5 dengan arsitektur bangunan megah dan mencakar langit tertata dengan susunan kota yang rapi asri dengan keadaan jalan yang rapi, terkendali dan indah dengan pohon teduh dan taman-taman bunga yang berjejer jarang-jarang di sepanjang jalan, di mulai sejak permulaan ia naik angkot.
Sesekali ia merujuk pada smartphonenya, memeriksa website kota Balikpapan, untuk tahu lebih dalam apa-apa saja perubahan pesat pada kota Balikpapan, industri yang berpotensi tinggi marak beredar di Balikpapan murni tanpa adanya campur tangan investor asing, dan dengan bangunnya industri-industri lokal yang seimbang dalam keuntungan,pemasok nomor satu minyak bumi seluruh Kalimantan dan pengguna listrik tenaga air terefektif di seluruh Indonesia.Dijumpai pula pembangunan jalan tol penghubung Samarinda-Balikpapan yang telah berfungsi dua tahun terakhir dan jembatan penghubung Penajam –Balikpapan pun sudah aktif selang setahun terakhir
Balikpapan sendiri menjadi kota yang mempunyai jalur lintas nasional dan Internasional setelah di barengi suksesnya kontruksi pembaharuan operasional Bandara Sepinggan dan Pelabuhan Semayang sebagai jalur Mancanegara yang paling sering di lalui karena letak yang strategis antara Asia dan Osean , di tahun 2018 Balikpapan menjadi kota tersehat dengan kuantitas presentase kurang dari 2% anak penderita gizi buruk sesuai pendataan kesehatan sejak 2016 hingga 2018 dan tiap tahunnya pun, presentasenya telah berkurang dan berkurang.
“Wah! Tidak Cuma penghargaan Adipura lima tahun berturut-turut mulai 2015, di tahun 2020 ini Balikpapan menjadi The Most Grean, Clean and Healthy City berdasar penilaian Asia Tenggara!” Falah bicara pada dirinya sendiri sebagai respon hasil dari browsingnya di internet.
Kota Balikpapan benar-benar mencapai masa depannya, Falah ingat delapan tahun lalu rata-rata gedung dan pusat perbelanjaan maksimal hanya mencapai lantai tujuh, kini telah menjadi dua kali lipatnya bahkan lebih, cerdasnya strategi yang terlaksana serta majunya sumber daya manusia Balikpapan yang berkualitas, telah mengatasi dan mengisyaratkan pihak-pihak asing yang tersisa untuk angkat kaki.
Berselang perjalanan singkatnya di angkot yang di penuhi kesan luar biasa masa depan Balikpapan, Nampak daerah Kebun Sayur yang telah maju pesat dengan plazanya yang sungguh besar dan megah, serta daerah pasar inpres, Tempat barang-barang tradisional kaltim yang menjadi persinggahan banyak turis internasional yang amper tidak pernah sepi tiap hari karena barang-barangnya mempunyai kualitas seni bernilai tinggi di mata dunia.
Tak ingin menghilangkan khas tradisional pasar tersebut, desainnya tetap sederhana, dan masih ada pedagang kaki lima yang eksis berjualan di sekitar pasar, yang bahkan ramai di kunjungi turis-turis mancanegara untuk mengenal lebih jauh kebudayaan khas Indonesia tentang PKL itu. Falah serasa terharu dan terdiam di trotoar mengamati benar-benar daerah tersebut,” kangennya! Dulu aku selalu makan makanan terenak di dunia di sini, pakle’ Joko mana ya!?” Mengekspresikan kekangerannya ia langsung masuk ke gerbang pasar inpres dan menuju ke daerah para PKL yang menjual kuliner aneka bakso, Falah adalah orang yang amper pada suatu hal, termasuk kecintaannya pada Balikpapan, bahkan bakso dan langganannya.
Namun walau Falah telah berpenampilan sederhana dan berusaha menyamarkan identitasnya, karena gaya berjalannya yang masih bagitu amper seperti orang strata atas dan di karenakan ia adalah orang besar banyak orang yang memerhatikannya, takut identitas aslinya ketahuan ia akhirnya mengubah gerakannya menjadi orang ling-lung dan aneh agar orang berprasangka lain dan melupakan dugaan bahwa ia benar-benar Falah, Falah memang seperti orang yang telah lama di sekap di kurungan dan akhirnya berhasil melarikan diri.
Betapa senangnya ia berjalan-jalan disana, bukan hanya makin sejuk dan tentramnya Balikpapan, tetapi karena rasa kerinduan tingginya dengan kota beriman. Setelah berkeliling di daerah PKL, ia bertemu orang yang mirip pakle! Joko, terakhir Falah bertemu itu 12 tahun yang lalu saat pakle’ joko masih berumur 24 tahun dan Falah masih berkuliah di UniversitasMulawarman samarinda sebelum akhirnya ia meneruskan S2 management bisnis di Cambridge University, Inggris, melalui beasiswa.
“Waktu itu aku menyempatkan waktu libur kuliahku kemari, sudah lama sekali! Pasti pakle’ Joko sudah berkeluarga”. Ucapnya sambil berhenti sejenak kembali mengenang masa-masa ia saat masih kuliah dulu. Falah ingin membuat kejutan pada pakle’ Joko, hubungannya sangat akrab dulu bahkan koneksi mereka berdua selalu tersambung sebelum Falah berpisah untuk kuliah ke Inggris dan menjadi Wirausahawan ampe tersukses yang memproduksi kain wol batik dan berpusat di Adelaide, Australia.

Falah berupaya menjadi pelanggan biasa dan memesan makanan favoritnya yaitu bakso yang tersedia pada dagangan pakle’Joko, menurut pengamatan Falah, pakle’Joko tidak begitu berubah tetap saja rapi, ramah dan bersih, karena walau dia pedagang kaki lima ia pedagang yang adil, rajin ibadah, melayani dengan tulus, jujur, ikhlas dan bersahabat. Falah dari dulu kemanapun ia pergi di kota Balikpapan, selalu ia mampir ke tempat pakle’Joko untuk membeli baksonya dan tak pernah ia berjumpa untuk waktu singkat, selalu berbagi cerita layaknya teman akrab, dulu suasana kota masih amper dan agak kumuh, namun kebijakan yang sama di terapkan seperti di singapura menjadikan Balikpapan sebagai kota terbersih di seluruh Asia Tenggara.
“Ini pesanannya mas…! Silahkan dinikmati, oh ya ini ada Koran hari ini jika mas ingin membacanya!”Ucap pakle’joko, karakternya tetap sama seperti dulu begitupun selalu menyuguhkan Koran kepada pelanggannya, kebetulan pagi itu masih sepi pelanggan, karena penduduk ampe masih beraktifitas rutin layaknya hari senin pada umumnya, hanya pedagang, pemilik amp di pasar dan turis-turis luar negeri yang banyak membuat dokumentasi budaya Indonesia, terutama Balikpapan dan etnis asli Kalimantan yaitu Dayak.
Setelah dipersilahkan, Falah langsung menyantap bakso itu, memakan dengan lahap dan begitu antusias, memang ia sedikit unik dalam kebiasaan menyantap bakso, selalu merasakan rasa asli tanpa tambahan bumbu dan tidak menyukai makanan dengan penyedap rasa tambahan, pakle’Joko mulai mengamati karena pelanggan yang punya gaya seperti itu hanya langganan akrabnya dulu yaitu Falah sendiri.
Saat ia tersedak makanan, Falah mencoba diam, kebiasaannya memesan minuman setelah makan, membuat ia tetap tersedak hingga pakle’Joko merespon sekaligus kesempatan untuk memastikan apakah ia Falah, Pakle’joko pun menyuguhkan es jeruk nipis yang biasa dulu Falah pesan setiap makan di tempatnya.
Segera setelah di suguhkan, Falah melihat pakle’joko membaca sebuah novel yang menurut Falah sudah amper g lagi. “Novel ini benar-benar telah menginspirasi saya, tokohnya yang orisinil dan punya kesetiaan rela berkorban memberikan dorongan terus buat saya!” Ucap pakle’Joko mengekspresikan novel yang ia baca, untuk memancing Falah, ialah novel berjudul FATE karangan Falah sendiri. Melihatnya Falah langsung kaget dan kacau ternyata ia ketahuan oleh pakle’Joko.
Senyumlah pakle’joko ia menang”Bahaimana kabarnya mas! Balikpapan sudah sukses sekarang, gimana di luar negeri!?: Berkatalah pakle’joko di samping Falah sambil memegang pundak Falah, Falah tersentuh hatinya dan langsung merangkul pakle’Joko, keduanya sama-sama terharu setelah sekian lama ia tak berjumpa, akhirnya dapat kembali bertemu di Balikpapan lagi.
“Luar biasa kamu sekarang! Kukira kamu sudah gak akan pernah kembali lagi ke Balikpapan!” Ucap pakle’ Joko dengan nada bersahabat.
“Tidak mungkin! Dari dulu aku selalu ingin kemari sejak aku di Inggris, kalau bukan karena Balikpapan! Aku tidak amp jadi orang seperti sekarang ini!” balas Falah, ia mencoba bicara dengan nada santai sambil menutupi tangis terharunnya, setelah melepas kerinduan. Baginya Pakle’Joko sudah seperti keluarga sedarahnya sendiri, karena Falah adalah orang sebatang kara, ia telah hidup sendiri, sejak ia kuliah di Unmul, dan amper berhenti karena sudah tak ada biaya, kalau bukan bantuan dari SMAnya di km 10 Karang Joang tepatnya di SMA Muhammadiyah 2 Al-Mujahidin, ia tidak mungkin dapat menjadi Novelis yang mencatatkan namanya sebagai nominasi The World Best Fiction dan sebagai 5 besar pengusaha tersukses seAsia.
“Kalau bukan karena pakle’ beri aku harga murah, bahkan gratis! Mungkin aku sudah tak lagi disini!” kali ini isakannya mulai reda dengan wajah benar-benar bahagia pada pakle’Joko.
“Syukurlah kamu masih tidak berubah rupannya, Alhamdulillah!” kali ini pakle’Joko berusaha tegar dan melegakan perasaan Falah, Mereka berdua berbincang-bincang layaknya kawan lama, keduanya bukan orang yang menjalani hidup dengan mudah, Cukup menghibur mereka tentang kemajuan Balikpapan dan seluruh tercapainya pembangunan disana.
“Kini jika kamu ingin pulang pergi ke Samarinda, tidak perlu waktu lama dan tidak membosankan lagi! Jalan tol penghubung telah tersedia dan pusat rekreasi alam baik amper kota serta flora, fauna asli Kalimantan, tersohor dan setara dengan Taman Nasional Indonesiapun terdapat di km.15 dan km.23!” info dari pakle’Joko mengakrabkan Balikpapan masa depan yang baru bagi Falah.
“ya aku lihat wacana keseluruhannya di Internet, pemanfaatan batu bara dengan metode penyedotan dengan mekanik canggih juga berhasil membangun industry Balikpapan tanpa adanya pengrusakan! Ini semua seperti mimpi yang jadi kenyataan!”. Respon Falah pada pakle’nya, beberapa saat kemudian mereka melihat tiga bocah penjual Koran yang terlihat menghitung uangnya untuk membeli makanan, mereka di tolak banyak PKL penjual makanan di karenakan kurangnya uang mereka dan akan memberikan citra buruk para turis asing yang selalu mengamati apapun walau itu kecil.
Tak lama berselang mereka menuju ke tempat pakle’Joko, Falah’ yang hanya diam iba melihat ke tiga anak itu tak sadar, pakle’Joko telah menyuguhkan tiga porsi, bakso lengkap dengan tiga gelas es the untuk ketiga anak itu.
“pakle’ tapi kami Cuma punya uang sepuluh ribu!?” Ucap anak-anak yang polos dan usianya masih berkisar sepuluh tahunan itu.
“Makan aja nak, ini gratis buat kalian bertiga, yang penting kalian kenyang!” Balas pakle’Joko pada ketiga anak itu. Saat itu sungguh wajahnya bagai bercahaya atas ketulusannya menolong amper hidup. Pakle’ membiarkan mereka bertiga makan dengan lahap, mengerti betapa laparnya mereka, pakle’ sengaja member porsi lebih agar mereka puas.
“pemerintah kota sebentar lagi akan melakukan kebijakan untuk menangani gepeng, PKL, pengamen dan juga termasuk anak-anak yang bekerja di bawah umur, namun banyak yang menolak karena belum jelas kepastian selanjutnya!, kasihan anak seperti mereka, hanya itu yang amp kulakukan paling tidak sanggup membuat mereka untuk tersenyum sekali saja sudah keajaiban bagiku, aku piker merekalah anak-anakku yang harus kujaga” Ucap pakle’Joko dengan bijak dan benar-benar peduli layaknya aktifis yang rela berkorban demi apa yang ia juangkan.
Falah kembali merenung dan merasa malu pada pakle’ Joko, padahal ia hanya seorang pedagang bakso tapi rasa dermawannya lebih besar, kemudian sesaat setelah itu tiga anak itu mengucapkan terima kasih pada pakle’ Joko.
“Om ini bacaannya apa!?” salah seorang bocah bertanya pada Falah dengan antusias sambil menunjukkan wacana di Koran.
“Oh ini di bacanya Balikpapan Gerbang Indonesia, pintu Indonesia Menuju Masa Depan!” Jawab Falah, ia juga benar-benar tulus, balas Falah bertanya, “Adik-adik sekalian boleh om beli semua korannya!?”.
“Iya dong om! Kalo begitu kami amp bayar makanan kami tadi, oh ya terima kasih banyak om!” kara seorang bocah lagi.
“Tapi kalian harus mau om sekolahin! amper ya!”, permintaan Falah pada anak-anak itu, pakle’ dan anak-anak itu kaget entah kenapa tiba-tiba ia berkata begitu usai ia memberikan tiga lembar uang seratus ribu, masing-masing pada tiap anak itu, syukur respon anak itu luar biasa mereka berantusias, segera Falah mengurusnya dengan intruksi kepada sekretarisnya, bahkan tak Cuma itu, ia juga menyuruh untuk menyiapkan biaya besar dan juga bantuan operasional karena ia langsung membantu sekaligus seluruh PKL, pengamen dan anak-anak jalanan tidak lupa para gepeng di Balikpapan, walau ia orang besar tetap saja biaya yang di keluarkan cukup besar.
Untuk mengoperasikan pekerjaan pada para PKL, Fath langsung menyuruh untuk menyediakan pembuatan bangunan pemasaran untuk para PKL dan juga menyediakan biaya hidup, para pengamen di sediakan beasiswa untuk di sekolahkan di sekolah music yang ada di Balikpapan, para anak-anak di sekolahkan dan keseluruhannya punya antusias luar biasa, para gepeng di beri tempat untuk di didik seperti kursus menjahit, merajut dan pelatihan dasar pekerja-pekerja pada umumnya.
Hanya dalam beberapa menit intruksinya untuk sang sekretaris mengeluarkan biaya hamper mencapai satu trilyun, ia keluarkan Cuma-Cuma, untuk respon khususpun ada biaya tambahan dan nilainya tidak sedikit, Falah segera ikut serta dalam gerakannya itu, orang-orang yang telah di hadirkan langsung ke lapangan dan izin-izin pembangunan serta hal-hal lainnya tiba dan langsung jadi sorotan media baik negeri maupun swasta.
Falah yang telah di amper sekretaris beserta para agen perusahaannya dan para ahli yang telah di datangkan untuk mengurus masalah itu, langsung lari dari kerumunan dan pergi bersama pakle’Joko ke daerah yang aman dari kerumunan dan media yang mengamati.Ia tak peduli atas apa yang telah ia perbuat barusan,masalah biaya,pembangunan dan perekrutan pekerja kesemuanya di lakukan dengan Cuma-Cuma,hanya ia merasa yang di lakukan masih kurang dan iri atas apa yang Pakle’Joko,yang menginspirasinya.
“anak-anak dan pemuda ialah masa depan sebenarnya, yang akan mengangkat jauh maju negeri ini, aku iri pada mereka yang antusias saat di ajak sekolah! Aku baru menyadari hal itu saat orang tuaku meninggal akibat kecelakaan di Bukit Suharto dulu! Mereka pasti bisa lebih sukses, bahkan aku mungkin tidak ada apa-apanya nanti. Pakle’ hanya ini yang bisa kulakukan, pakle’ mau ikut dengan saya ke Adelaide nanti!?, di sana banyak yang menyukai bakso! Pasti seru” Ucap Falah seperti akan menutup perjumpaan dengan pakle’Joko.
“Aku cukup di sini Falah!, ikut masuk sebagai pegawai di pergerakanmu.mungkin berjualan bakso di kota ini sudah melekat dalam hidupku, kamu luar biasa Falah jasamu itu benar-benar luar biasa, jadi kamu melakukan ini atas rasa terima kasihmu buat Balikpapan!, usahamu tidak akan sia-sia terima kasih banyak Falah!”, Ucap pakle’Joko seraya meluapkan seluruh isi hatinya.
“bukan aku yang melakukan ini! Tapi semuanya dari pakle’Joko, terima kasih!” kata-kata akhir Falah pada pakle’ tercinta, lalu merangkulnya dan segera pergi menaiki angkot lagi-lagi tanpa pilih-pilih, dan kali ini duduk di kursi belakang karena telah di penuhi angkot dengan anak-anak remaja di dalamnya. Diperjalanan ia tertunduk diam dan hanya tetap merenung akan nostalgianya itu , ramai akan jahil dan tingkah konyol anak-anak di dalamnya mengingatkan Falah pada saat ia masih SMA dulu, amper sama tingkahnya seperti ia dan teman-temannya dulu sampai membuat ia tertawa, dan seorang dari remaja itu berkata “Maaf pak, anak santri emang udik!”.
“santri!? Di sekolah mana!?” Tanya Falah pada anak barusan.
“Santri di SMA Muhammadiyah 2 Al-Mujahidin pak!” sahut mereka serentak. Ia terkejut sungguh ia merasa itu suatu kebetulan. Karena ia dulu juga dari sekolah itu dan menjadi Alumni setelah sekolah 6 tahun di SMP dan SMA yang sama, “Wah, sungguh kebetulan! Untung kalian ingatkan saya! Saya juga akan menuju ke sana, ada urusan dengan guru disana!”balas lagi oleh Falah.
“Silahkan pak! Kami siap menemani tujuan bapak!” Respon para santri itu lagi, mereka pun berbincang-bincang, arah pikirannya tak jauh beda, dinamis dan unik, mereka itulah yang benar-benar akan mewujudkan masa depan Balikpapan nanti, karena kelak dengan impian para generasi penerus bangsa, menggenggam dunia pun bukan suatu hal mustahil, dan bukan tidak mungkin benih kemajuan itu terdapat disini, Balikpapan yang kubangun, kujaga, dan kubela! Terima Kasih Balikpapan.

oOo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: